Minggu, 26 Juni 2011

Beri Diri Jangan Simpan Racun

Mungkin tidak banyak orang yang mau menceritakan kegagalannya. Sebab kegagalan itu memahitkan hati dan pikiran. Kegagalan itu juga memalukan. Tentunya kegagalan tersebut mempunyai tingkatan masing-masing. Tingkatan itu terjadi karena terkait banyak aspek seperti berapa besar kekecewaan, kepedihan, dan harapan seseorang dalam satu peristiwa. Atau apabila hal tersebut menyangkut harga diri, melibatkan orang banyak seperti keluarga, rekan bahkan masyarakat di sekitar. Sehingga dapat dimengerti jika tingkat kegagalan seseorang yang sangat mencintai seorang kekasihnya berbeda dengan tingkat kegagalannya untuk mengejar kereta api yang akan ditumpanginya keluar kota. Tingkat kegagalan yang dialami seseorang yang bertanding dalam event internasional dengan tingkat kegagalan seseorang yang bertanding di tingkat RT sangat berbeda. Sehingga, semakin besar atau semakin tinggi tingkat kegagalan yang dialami seseorang, maka semakin besar kepahitan, kepedihan, kekecewaan, beratnya tekanan pada dirinya.

Tentunya kegagalan yang berdampak besar tidak ingin diingat-ingat oleh seseorang karena menyakitkan selain itu membuatnya malu. Karena kegagalan itu seperti catatan akan siapa diri kita sendiri. Catatan yang menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan, kebodohan, kesialan, kepahitan, kekecewaan, dan lain-lain. Untuk itu, ibarat catatan rahasia yang tidak boleh diberitahu kepada siapapun juga, catatan itu harus disimpan jauh-jauh di tempat rahasia. Atau kalau perlu disimpan dalam tanah. Jangankan membicarakannya, untuk mengingatnya saja seperti sesuatu yang tidak ingin dilakukan.

Namun, ada juga orang yang tidak tahan untuk menahan kegagalan yang terjadi. Karena kegagalan itu dapat membuat hati ini terasa pahit, dada terasa sesak. Memperumit pikiran yang kesehariannya sudah rumit untuk memikirkan bagaimana cara untuk menjalankan hidup. Kegagalan itu membuat emosi dan jiwanya tidak stabil. Sehingga segala sesuatu dapat dilihat menjadi suram dan akhirnya gelap. Pada saat-saat seperti ini menjadi lahan yang subur bagi si iblis untuk memperkuat serangannya pada orang tersebut. Si iblis akan menampilkan berbagai bujukan yang membuat orang yang gagal itu seperti terpenjara dalam pikiran dan hati yang pahit.

Bila orang yang gagal tersebut sedang berada di tepi pijakan imannya, maka si iblis akan memberi kesan yang mendalam terhadap kegagalan yang sedang dialaminya. Iblis akan menampilkan hidup yang gagal itu adalah hidup tanpa harapan. Sehingga hidup tersebut lebih baik diakhiri. Ada banyak contoh yang dapat kita sebut dari kondisi di sekeliling kita. Sebut saja Arman, seorang pria yang pekerja keras. Ia mempunyai seorang kekasih yang betul-betul ia cintai. Ibarat pepatah katakan : “Tanpa engkau hidupku tiada berarti.” Itulah yang dialami oleh Arman. Ketika ia mengetahui kekasihnya ternyata kawin lari dengan seorang pria. Dalam kondisi tersebut, Arman merasa hidupnya habis, tidak mempunyai harapan. Ia seperti ditipu mentah-mentah oleh seseorang yang telah dicintainya dengan mendalam. Akhirnya ia terbujuk oleh rayuan setan. Ia mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun.

Kita tidak bisa menafikan dan menutup mata bahwa di sekitar kita banyak orang mengalami kegagalan yang cukup membuat diri orang tersebut menderita. Dan penderitaan yang dialaminya itu jika tidak dibentengi dengan iman yang kuat, serta dukungan dari orang-orang sekitarnya akan membuat orang dapat dengan mudah terjebak oleh rayuan setan. Terjebak untuk berbuat yang dilarang agama. Dan berdasarkan data Polda Metro Jaya yang dilansir dari detiknews.com (21/2,’11) menyebutkan dari tahun ke tahun angka bunuh diri di Jakarat semakin meningkat. Dalam tahun 2009 angka bunuh diri mencapai 165 kasus. Pada tahun 2010 kasus itu meningkat menjadi 176 kasus. Berarti setiap dua hari sekali ada 1 orang yang bunuh diri dan setiap bulannya ada 12 s/d 14 orang yang bunuh diri di Jakarta.

Dengan data yang di atas, bukan berarti bahwa setiap orang yang mengalami kegagalan besar akan masuk dalam bujuk rayu si iblis untuk bunuh diri. Belum tentu!! Jika imannya cukup kuat, stabil, dan mendapat dukungan dari orang-orang terdekat serta sekitar, maka orang itu hanya perlu waktu untuk memulihkannya. Tapi dengan catatan, kegagalan itu harus diungkapkan, dibukakan kepada orang-orang yang disekitarnya yang dipercayainya. Namun, jika orang tersebut imannya masih kurang stabil, dan orang itu tidak mendapat dukungan yang kuat dari sekitarnya, ia akan masuk dalam kondisi depresi.

ernyata tumbuhnya kasus bunuh diri atau depresi di Indonesia menurut sebagian ahli karena dipicu oleh parahnya kondisi yang ada di sekitar mereka. Antara lain, semakin beratnya tuntutan hidup di kota-kota besar seperti Jakarta. Dan semakin tingginya tingkat persaingan yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya. Sehingga setiap individu sudah sangat sibuk untuk diri sendiri dan tidak mempunyai waktu lagi buat orang lain. Bahkan seperti menjadi kelaziman tersendiri jika orangtua pun tidak lagi mempunyai banyak waktu buat anak-anaknya. Padahal, dalam melepaskan diri dari kegagalan yang besar bukanlah suatu usaha yang mudah. Selain iman, dibutuhkan juga kemauan orang tersebut untuk melepaskan diri dari berbagai hal yang menyiksa jiwa, hati dan pikirannya. Kemudian membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya.

Kondisi bangsa dan negara kita saat ini semakin membuat tekanan-tekanan hidup begitu besar yang membuat kegagalan besar lebih berpeluang terjadi pada setiap orang. Dan kondisi-kondisi itu juga mengurangi kemampuan orang untuk membangun perhatian, kepedulian, sentuhan, empati dan simpati. Bisa saja karena tidak punya cukup waktu, tidak punya kemampuan untuk melakukannya. Sehingga boleh dikatakan kalau sekarang ini hubungan relasi antar orang ke orang yang lain semakin miskin. Padahal salah satu aspek yang diperlukan untuk pemulihan seseorang dari kegagalan besarnya adalah dukungan dari orang-orang sekitarnya.

Jika pemulihan seseorang dari kegagalannya membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar, maukah kita menjadi saudara bagi orang lain? Apakah kita mau memberikan diri bagi orang yang membutuhkan? Mungkin mereka butuh untuk didengar, disapa, sehingga mereka dapat merasa dikuatkan, dan akhirnya pulih dari dampak kegagalan besar yang mereka alami. Mari kita hadir bagi orang lain yang di sekitar kita. Mari kita tingkatkan kepedulian kita bagi mereka. Kehadiran kita akan berharga bagi mereka. Kehadiran itu membuat mereka juga akhirnya mau terbuka akan segala kegagalan yang membuat mereka menderita. Kehadiran yang disertai dengan simpati dan empati. Kehadiran yang berlandaskan kasih sehingga kita mampu memerlakukan, memerdulikan, mengasihi mereka seperti diri kita sendiri. Kehadiran itu dapat dilakukan dengan banyak cara, sesuai dengan konteks yang ada di sekitar kita. Dan juga sesuai dengan keahlian kita. Jika hal ini kita dapat lakukan, maka mulai sekarang kita tidak lagi menutup diri bagi orang-orang sekitar, tidak lagi menjauhi orang-orang yang tidak sepaham, seide dengan kita. Kita akan menyatu dalam membantu sesama kita.

Bagi yang sedang mengalami kegagalan dan ingin menyimpannya supaya orang lain tidak perlu tahu, harus diingat, kegagalan seperti itu akan membuat diri kita sendiri rusak. Jika kita hanya menyimpan jauh di dalam hati kita dengan harapan dapat melupakannya, ingatlah hal itupun berbahaya. Seperti yang terjadi di suatu daerah di Afrika beberapa desa di sekitar satu sungai mendapat wabah. Orang-orang di beberapa desa itu terjangkit penyakit perut dan memakan sudah memakan korban. Sebab itu, pemerintah mengundang tim dari luar negri untuk memeriksa dan mencari tahu sumber dari wabah itu. Tim memeriksa air sungai itu, ternyata memang air sungai sudah tidak layak minum karena mengandung bakteri yang dapat menimbulkan penyakit dan kematian. Tim itu lalu menyusuri sepanjang sungai itu, dengan harapan mereka bertemu dengan ‘sesuatu’ yang menjadi sumber wabah itu. Mereka awalnya menduga akan menemukan buangan limbah beracun di sepanjang aliran sungai. Tapi sampai ke hulu, mereka tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengutus beberapa orang menyelam ke bawah air untuk menemukan sumber bakteri itu. Ternyata para penyelam telah menemukan sumber wabah itu. Mereka melihat ada bangkai seekor banteng dengan anaknya terjepit di antara bebatuan yang menjadi tempat keluarnya mata air sungai itu. Itulah yang menjadi racun, sumber bakteri yang menimbulkan wabah dan sampai menelan korban manusia. Kegagalan yang menimbulkan kepahitan hati, kekecewaan itu jika disimpan dalam hati itu akan menjadi bangkai banteng dan anaknya yang terjepit di hati anda. Yang pasti itu akan meracuni seluruh hidup anda.  Anda mau seperti itu?

Kamis, 23 Juni 2011

Menapaki Jalan Penuh Kegagalan

Pernahkah anda mengalami kegagalan? Rasanya hampir tiap orang pernah gagal sesuai dengan versi masing-masing. Ada yang pernah gagal bercinta, gagal menjalin rumahtangga dengan baik, gagal menjadi seorang ayah atau ibu, gagal menjadi anak yang berbakti. Gagal dalam pekerjaan karena melakukan berbagai kesalahan dan lain sebagainya. 

     Saya adalah salah satu orang yang sering mengalami kegagalan. Sepertinya dalam hidup saya, kegagalan ibarat bagian yang tidak hentinya berlangsung. Jika saudara menyuruh saya menghitung dan menuliskan peristiwa-peristiwa mana yang paling banyak terjadi dalam hidup saya, apakah peristiwa tentang kegagalan atau keberhasilan? Maka rasanya peristiwa yang memuat tentang kegagalan saya jauh lebih banyak dari pada peristiwa keberhasilan. 

     Pernah suatu hari, saya mengalami kegagalan yang beruntun. Mulai dari tulisan saya dianggap jelek oleh seorang sahabat. Bayangkan saja, tulisan yang saya sudah kerjakan dalam kurun waktu tertentu, dan saya anggap sebagai magnum opus (karya besar) dari diri saya, malah dikatakan ide tulisan itu loncat-loncat. Tidak ada kesinambungan antara paragraf yang satu dengan yang berikutnya. Merupakan kritikan yang membekas cukup dalam ingatan saya. Ternyata tidak sampai di situ saja kegagalan yang akan saya terima. Ternyata, beberapa jam kemudian saya mendapat sms dari seorang teman info tentang satu keluarga yang ternyata suka menjelek-jelekkan diri saya. Ufff...saya hanya bisa menarik nafas cukup dalam. Rasanya info tentang kejelekan saya itu lebih bersifat fitnah. Karena tidak mengandung kebenaran. Kalaupun ada kebenarannya itu hanya berkisar 10%. Dari 10 keburukan yang diceritakan tentang saya, hanya satu yang benar. 

      Bahkan hanya berselang 1 jam, saya gagal menjual rumah. Memang waktu itu saya ingin menjual rumah. Dan sehari sebelum kegagalan itu datang, calon pembeli sudah menyepakati harga dan berjanji akan memberikan down payment (uang muka) keesokan harinya. Ternyata hal itu batal. Jadi sepanjang hari itu saya merasa terpukul akibat berbagai kegagalan yang beruntun tersebut. Mungkin lain rasanya jika di antara kegagalan yang datang pada hari itu, ada satu keberhasilan yang dapat menggantikan seluruh perasaan yang terpukul dan pikiran yang mumet akibat masalah itu.

      Mungkin anda bertanya, apa standar saya untuk mengatakan diri saya gagal?  Atau mungkin anda berpikir : “Betapa menyedihkan nasib orang ini karena sering mengalami kegagalan dalam hidupnya.” Pertanyaan itu langsung saya jawab dulu. Standar bagi saya kegagalan mudah saja. Yaitu ketika saya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang saya sedang kerjakan. Atau ketika sudah mempersiapkan segala sesuatu (rasanya persiapan sudah yang terbaik) tetapi tetap saja tidak menghasilkan hasil yang maksimal. Atau ketika sudah menjalankan kehidupan yang dirasa cukup baik, tiba-tiba ada pandangan-pandangan negatif yang muncul dari orang sekeliling. Jadi standar saya untuk menentukan itu gagal atau tidak adalah achievement atau pencapaian. 

      Bagi diri saya, pencapaian adalah semacam pemenuhan cita-cita. Sehingga jika cita-cita itu gagal, maka berarti sia-sialah perjuangan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dan pencapaian merupakan salah satu bentuk pembuktian diri sendiri. Ketika tercapai, maka membuat satu semangat, satu kebanggaan diri bahwa diri saya berhasil, diri saya mampu. Berbagai perasaan positif yang menyeruak dalam relung batin ini seperti mengingatkan saya ketika ibu mengusap kepala saya sambil berkata dengan nada bangga : “Kamu membanggakan ibu, ibu mengasihi kamu.” Tapi dalam hal ini, saya bukanlah orang yang mengidap oedipus complex. (tentunya tulisan ini tidak membahas masalah oedipus complex tersebut).

     Kembali kepada kegagalan. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa kegagalan itu sering menerpa saya. Ada satu bisikan kepada saya, kalau saya harus menjadikan kegagalan tersebut sebagai bahan koreksi dalam hidup ini. Berarti kalimat tersebut seakan hendak menjabarkan kepada saya, bahwa kegagalan yang sering saya hadapi lebih banyak bersumber dari ketidak cakapan saya, ketidak mampuan saya bertindak yang baik dan benar. Waduh.... Namun, ada pembisik lainnya yang mengatakan kegagalan itu adalah satu wadah buat mendidik saya lebih arif dan bijaksana. Hal itu menyiratkan betapa mahal dan menyakitkan bagi saya untuk mencapai keberhasilan itu. Tapi tak ketinggalan satu pembisik lagi yang mengingatkan kegagalan itu seharusnya membuat saya semakin bergantung pada Tuhan. Mendengar itu saya tersenyum pahit. Karena ia mengetahui keboborokan saya yaitu masih jauh dari Tuhan. Masih suka mengandalkan kemampuan diri sendiri. Masih kurang beriman. “Aduh Tuhan, ampuni hamba yang kurang percaya ini,” bisik saya dalam doa.
     
    Tak tahu harus berbuat apa dalam kondisi seperti itu, muncul niat untuk mencari panduan di berbagai tulisan bagaimana cara untuk melewati berbagai kegagalan. Dengan harapan, ada tulisan-tulisan tertentu yang dapat memberikan secercah harapan ketika saya menghadapi kegagalan ini.    

   Dari beberapa mass media yang saya baca, banyak penulis yang dapat menguraikan berbagai latar belakang yang menimbulkan atau penyebab kegagalan. Bahkan dari antara para penulis tersebut ada yang mampu untuk memilah-milah berbagai kegagalan dan menyortirnya sedemikian rupa untuk membantu orang dalam menilai kegagalan. Misalnya, kegagalan tersebut dia klasifikasikan dalam beberapa kategori. Kegagalan menurut ukuran waktu seperti kegagalan jangka panjang, menengah dan pendek. Kegagalan menurut ukuran materi seperti dalam kegagalan tersebut berapa banyak kerugian materi yang diderita. Kegagalan menurut ukuran obyektif dan subyektif. Menurut penulis tersebut, bisa saja menurut orang banyak hal  itu gagal, tapi bagi si pelaku, itu bukan kegagalan. 

     Namun, semakin banyak membaca, semakin mumet rasa di kepala. Alasannya, tulisan yang dibaca kok malah tidak membantu juga untuk memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa yang berteriak ini. Malah semakin kencang tuduhan dalam jiwa saya. Mungkin ketika Anda membaca tulisan ini, tergerak hati untuk meringankan tangan menulis dalam komentar dari kolom yang tersedia. Siapa tahu saja, tulisan anda dapat menjadi penguat bagi saya untuk bangkit dari kegagalan demi kegagalan itu. Soalnya sayapun menjadi lelah untuk melanjutkan tulisan ini, karena kegagalan untuk berpikir jernih di kesunyian malam ini.
     

Selasa, 07 Juni 2011

Teladan Dalam Memberi (Bilangan 7:1-11)

     Dalam perikop ini, adanya satu ketetapan Tuhan kepada bangsa Israel dalam memberikan persembahan di Kemah Suci. Ketetapan itu menjadi satu perintah yang harus dijalankan oleh bangsa Israel secara turun temurun. Dari perikop ini kita dapat belajar beberapa hal yang dapat menjadi pelajaran rohani bagi kita.

    Namun, perlu kita ketahui, mengapa kita harus memberi persembahan kepada Allah. Bukankah Dia sudah memiliki segalanya? Apakah karena Ia masih membutuhkan persembahan dari manusia? Keseluruhan Alkitab menjelaskan bahwa apapun yang ada di dunia ini merupakan ciptaan-Nya. Sehingga apapun yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Mungkin ada yang berpikir bahwa kita ada karena kita. Saya permisi tanya, apakah kita dapat menjamin nafas kehidupan itu tetap kita miliki selamanya? Jika tidak, siapakah pemilik nafas kehidupan kita?

    Mungkin kita masih berpikir, kalau kita bekerja maka kita dapat uang atau gaji. Saya mau permisi tanya lagi, jika kita katakan kita mendapat uang karena kerja keras kita, maka sebenarnya, apakah kerja keras kita tidak membutuhkan kesehatan, tidak membutuhkan tenaga, pikiran  yang baik? Dari manakah semuanya itu datang? Tentunya semua datang dari Tuhan yang menganugerahkan kepada kita semua. Sehingga, uang yang kita dapat, harta yang kita peroleh, itu sebenarnya milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita. Bukankah sepantasnya kita memberikan kembali kepada Tuhan milik-Nya itu dalam bentuk persembahan?

     Mengapa diperlukan teladan dalam memberi? Kita harus mengerti hidup kita masih dalam tubuh  yang dikuasai oleh dosa. Tentu saja, apabila kita melakukan seseuatu yang berkenan pada Tuhan, daging ini akan berontak. Kedagingan kita dapat berkata: "Untuk apa memberikan persembahan kepada gereja? Jangan-jangan uangnya itu dipakai untuk hidup foya-foya hamba Tuhan saja." Demikianlah kira-kira contoh ajakan dosa untuk melarang kita memberikan persembahan kepada Tuhan lewat gereja-Nya. Jadi, keteladanan dibutuhkan bagi kita agar : kita dapat mempunyai pola atau patron dalam memberikan persembahan. Agar kita dapat dimotivasi dalam memberi dan dapat melawan kehendak dosa yang menghalangi kita melakukan firman Tuhan. Apalagi kita mengetahui dari Alkitab bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan (1Timotius 6:10). Sehingga perlu perjuangan yang khusus, keteladanan yang khusus dalam memberikan petunjuk  yang khusus dalam menjalankan ketaatan dalam memberi ini.

     Ada beberapa hal yang ditunjukkan kepada kita tentang keteladanan dalam memberi pada perikop ini:
1. Keteladanan dari atas ke bawah, dari pemimpin ke rakyatnya. Ini adalah keteladanan dari seorang pemimpin yang berkenan di hadapan Tuhan. Setiap pemimpin bukan hanya menjadi seseorang yang dapat memberi perintah kepada rakyatnya. Tetapi ia harus menjadi teladan yang sebenarnya membawa seluruh rakyatnya semakin patuh kepada Tuhan. Dan keteladanan adalah perintah yang tidak bersuara, namun sangat efektif dan kuat dibanding perintah secara verbal. Makna rohaninya bagi kita adalah : setiap kita haruslah mampu menjadi teladan bagi setiap orang yang disekitar kita. Melalui keteladanan yang kita lakukan, orang akan dapat datang kepada Tuhan Yesus.

2. Keteladanan dalam sikap hati. Walaupun setiap pemimpin/kepala suku diwajibkan Tuhan untuk memberikan persembahan secara berkelompok (satu kelompok ada 2 pemimpin dalam ay.3) serta setiap hari memberikan persembahan (ay.11) mereka tetap memberikan denan tulus dan dalam ketaatan. Karena tanpa ketulusan, akan ada saja kerjasama yang tidak beres. Karena bisa saja, pemimpin yang satu menganggap dirinya lebih baik dari pemimpin yang lain. Selain itu, ketaatan membuat perintah yang diberikan kepada mereka dapat dijalankan dengan baik. Tidak membantah, tidak menggerutu, tidak melawan. Semuanya dipandang sebagai ketaatan pada perintah Tuhan serta ketulusan dalam mengikut Tuhan. Makna rohaninya adalah : setiap kita harus memiliki ketulusan dan ketaatan dalam memberi. Seperti contoh seorang janda dalam Lukas 21:2 yang memasukkan semua uangnya sebagai persembahan. Ketulusan dan ketaatan kita kepada Tuhan secara khusus dalam memberi persembahan tentu tidak lah sia-sia. Sebab itu, jangan sampai kita hitung-hitungan dalam memberi, jangan sampai kita lebih mendahulukan membeli hal-hal yang menyenangkan hati kita, tapi lupa atau tidak mau memberikan persembahan kepada Tuhan.

3. Keteladanan dalam mendukung pelayanan di rumah Tuhan. Seperti yang tercantum dalam ay.4-5 bahwa segala persembahan yang diberikan oleh semua pemimpin suku itu adalah agar pelayanan di rumah Tuhan. Semua pemimpin mengetahui hal itu, dan mereka melakukannya. Walaupun mereka tahu, sebagian persembahan mereka akan dipakai untuk mendukung suku Lewi yang melayani di rumah Tuhan. Maknanya bagi kita adalah : kita harus mengerti bahwa uang persembahan yang kita berikan ke gereja adalah untuk mendukung pelayanan di rumah Tuhan agar dapat berjalan dengan baik. Pelayanan di rumah Tuhan (gereja) saat ini termasuk tunjangan hidup hamba Tuhan, biaya operasional gedung seperti listrik, air, kebersihan, keamanan, dan biaya lainnya. Jika kita meneladani hal tersebut, hati kita harus kita arahkan bahwa dukungan itu semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan sampai kita terjebak ke pemikiran yang tidak berkenan kepada Tuhan. Misalnya, jadi berpikir uang persembahan itu akan langsung disalah gunakan oleh majelis gereja atau hamba Tuhan.

Keteladanan dalam memberi diperoleh dengan takut akan Tuhan  

Rabu, 01 Juni 2011

Saling Mendukung dan Menolong Dalam Kebenaran (1Samuel 18:1-5; 20:1-43)

Ada istilah yang sering kita dengar, persahabatan itu seperti kepompong yang mengubah seseuatu yang menjijikkan menjadi sesuatu yang indah. Dari ulat menjadi kupu-kupu yang berwarna-warni. Lewat ungkapan ini mau menyatakan, persahabatan itu menimbulkan sesuatu yang baik bagi seseorang. Tuhan Yesus pun menegaskan pengertian persahabatan sejati yaitu seseorang yang mau memberikan nyawanya pada sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13).
     Mengenai makna persahabatan dalam Alkitab juga dapat kita lihat dari dua orang tokoh yang bersabahat yaitu Daud dengan Yonatan. Persahabatan antara mereka dinyatakan dengan berpadunya jiwa Yonatan dan Daud. Perpaduan itu diterangkan dengan sikap yang mengasihi sahabatnya seperti jiwanya sendiri. Persahabatan itu juga dinyatakan dengan perjanjian dan inisiasi penyerahan jubah, baju perang, pedang, panah dan ikat pinggang (1 Samuel 18:1-4).

     Setelah itu, terlihat pembelaan Yonatan terhadap Daud dari kejaran pasukan ayahnya yaitu Saul yang berusaha untuk membunuh Daud. Sehingga, Yonatanpun harus berhadapan dengan ayahnya. Tapi semua itu menjadi risiko bagi Yonatan yang betul-betul bertindak sebagai seorang sahabat bagi Daud. Dan setelah Yonatan mati dalam perang, Daud tetap memenuhi janjinya kepada Yonatan untuk mengurus keturunan Yonatan dan Mefiboset.

     Untuk itu, kita mendapat pelajaran tentang arti seorang sahabat yaitu : Pertama, saling mendukung dan menolong dalam kebenaran karena hubungan mereka berdasarkan sumpah kepada Tuhan. Kedua, sebagai sahabat dalam mendukung dan membela kebenaran tidak akan mundur walau harus berhadapan dengan ancamana yang datang dari orang terdekat sekalipun. Ketiga, dukungan dan pertolongan dalam kebenaran bukan membabi buta, tetapi berdasarkan fakta  yang ada. Sehingga kebenaran itu bukan hanya kebenaran sepihak tetapi bersifat obyektif. Keempat, dukungan dan pertolongan itu siap diberikan kapan saja (seperti yang dilakukan oleh Daud terhadap Mefiboset).

Dukungan dan pertolongan harus kita lakukan dalam kebenaran Tuhan

Minggu, 22 Mei 2011

Hikmat Allah dan Hikmat Manusia (1 Korintus 1:18-25)


Dalam perikop ayat Alkitab yang kita baca ini, terlihat Paulus seperti orang yang sedang marah. Ia memakai kalimat keras dan pedas. Dia mengatakan "kebodohan pemberitaan Injil." Mengapa? Kalimat ini menggambarkan bagaimana sebenarnya banyak sekali orang yang berpikiran seperti yang disebutkan Paulus seperti itu.Yaitu menganggap berita Injil sebagai suatu kebodohan. Apalagi mengenai Yesus Kristus yang mati di kayu salib. Kalau kita melihat di berbagai situs dari orang-orang tertentu, komentar mereka tentang penyaliban Yesus adalah suatu hal yang menggelikan. Suatu hal yang mengada-ada, suatu pembohongan dan lain sebagainya. Alasannya adalah :"Mana mungkin Tuhan Allah bisa disalibkan selayaknya manusia berdosa?" Allah tidak mungkin bisa melakukan hal-hal kenajisan seperti itu....

      Memang secara logis, bagaimana mungkin seorang yang sudah mendekati kematian di kayu salib dapat menjadi orang yang menyelamatkan orang lain. Makanya ada suara-suara dari bawah kayu salib ketika Yesus disalib yang mengatakan : "Kalau memang Dia Raja Israel, suruhlah Dia turun agar kami dapat percaya." (Maitus 27:42). Apalagi salib pada saat kerajaan Romawi merupakan hukuman paling keji yang ditujukan pada para penjahat kelas kakap seperti penghianat negara, seorang pembunuh, dll.Orang terhukum, tak berdaya, dan akan mati, mungkinkah dapat menyelamatkan orang lain? Ini adalah inti pemikiran manusia.
     Hal inilah yang menjadi bukti bahwa logika manusia atau hikmat manusia menjadi sangat berbanding terbalik dengan hikmat Allah. Manusia tidak akan mungkin dapat mengikuti, menalar dan menebak hikmat Allah. Seperti yang saya kutip dari pernyatan Stephen Hawking seorang ilmuwan yang diakuioleh dunia yaitu : "Pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati." Ia menambahkan bahwa teorinya mengenai alam semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan semakin kuat. "Alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya." Seperti inilah hikmat manusia ketika mencoba menelaah semua ciptaan Allah yang dapat terlihat oleh manusia. Kemampuan manusia tetap ada batasnya untuk menelaah semua perbuatan Tuhan. Ibarat satu tetes air dibanding dengan lautan yang begitu luas.

     Allah telah berencana membuat tindak penyelamatan yang luar biasa dan tidak masuk akal manusia. Ia dari semula sudah merencanakan penyelamatan lewat pengorbanan Anak-Nya. Pengorbanan yang seharusnya dilakuikan oleh manusia, tetapi karena tidak ada satupun manusia yang mampu melakukannya. Karena syaratnya tidak akan diterima oleh Allah, yaitu korbannya harus suci, dan kudus. Sementara semua manusia sudah jatuh dalam dosa.Allah berdasarkan kasih, keadilan dan hikmat-Nya mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Manusia menggantikan manusia yang sudah tidak punya kemampuan, harapan, dan yang selalu bertentangan dengan Allah.

     Untuk inilah , kita harus belajar berdasarkan hikmat Allah. Artinya kita harus hidup sesuai dengan tuntunan hikmat Allah. Hikmat Allah yang sebagian sudah tertulis dalam Alkitab, itulah yang menjadi pedoman nyata bagi kita untuk berjalan sesuai pimpinan-Nya. Kita harus hidupi firman tersebut agar kita diberikan pengertian. Seperti yang dikatakan St.Agustinus : percaya dulu baru mengerti."  Jangan dibalik, mengerti dulu baru percaya. Seperti yang terjadi pada Thomas. Dia harus menyentuh bekas luka pada tubuh Yesus agar ia dipuaskan. Maka Tuhan Yesus berkata :"Berbahagialah orang yang percaya tanpa melihat." (Yohanes20:29).  Jadi, hanya melalui pengandalan hikmat Allah, kita menjadi selamat. Hendaklah kita meminta hikmat Allah agar hidup kita berkenan pada Allah.

Jumat, 13 Mei 2011

Perutku, Perutmu


               Dalam pelaksanaan pemilu legislatif lalu sampai jelang pemilu presiden beberapa tahun yang lalu, salah satu sorotan masyarakat adalah mencari calon legislatif serta calon presiden yang paling kredibel. Kredibilitas merupakan aspek penting menjadi pertimbangan masyarakat sebelum mencontreng pilihannya. Banyak masyarakat yang semakin sadar, jika tak hati-hati dalam memilih, maka orang-orang yang menjabat bukan orang yang memperjuangkan kepentingan masyarakat. Orang-orang tersebut lebih mementingkan perut mereka. Seperti tikus-tikus yang selalu mencuri makanan dan menggerogoti sampai habis demi perutnya. Indikasi caleg bermental “tikus” sebenarnya dapat terbaca dari cara mereka berkampanye sampai menjelang hari “H” yaitu hari pemilihan.

Biasanya, para caleg bermental “tikus” itu akan tebar pesona dengan cara politik perut alias politik uang. Mereka akan memberi uang ataupun benda lain kepada masyarakat agar mereka dipilih. Jika caleg bermental “tikus” tersebut sudah menabur sekian banyak uang sebelum terpilih, dapat dibayangkan setelah menjabat, mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar modal yang telah dikeluarkan sebelumnya dapat kembali. Namun, karena terasa nikmat, mereka akan mengadakan konglomerasi alias penimbunan kekayaan buat diri sendiri. Dan itu sudah terbukti sekarang ini. Banyak sekali permasalahan seperti korupsi, kecurangan muncul dari berbagai pejabat, politikus atau wakil rakyat.

Penulis menengarai, jika seorang caleg yang memang bermental “tikus” menjelang hari “H” akan mulas perutnya. Hal itu disebabkan karena tekanan mental yang cukup tinggi alias stress. Karena ketika stress muncul, maka lambung manusia mengeluarkan banyak asam lambung dan efeknya adalah timbulnya tukak lambung. Tentunya bukan hanya si caleg yang mulas perutnya. Bahkan para konstituen alias pemilih dapat mulas juga. Entah itu karena masuk angin, sembelit atau konstipasi, diare atau keluhan pencernaan lainnya. Bagi wanita, mulas dapat menjadi pertanda gejala menstruasi atau kehamilan.

Urusan tentang perut memang bukan sesuatu yang sederhana. Masih banyak diantara masyarakat kita setiap hari perutnya bernyanyi atau bersuara. Perut bernyanyi alias keroncongan karena belum diisi apapun. Penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan uang dari bekerja. Di kota-kota besar seperti Jakarta, kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab naiknya tingkat kriminalitas. Banyak pelaku kejahatan ketika tertangkap beralasan berbuat jahat akibat tidak punya pekerjaan dan kelaparan. Tentu perut bernyanyi seperti di atas berbeda dengan ventriloquisme yaitu ketrampilan berbicara dari perut. Ketrampilan ini dapat menjadi seni yang menghibur seperti boneka Apit yang dapat bicara lewat ketrampilan Anne Kartawijaya.  Jadi perut bukan hanya seputar  urusan lapar dan kenyang saja.

                Seorang teman suka sekali berolahraga di fitness centre.  Karena ia ingin punya perut yang kecil. Dia malu mempunyai perut yang buncit. Sehingga ia berusaha untuk membuat perutnya yang bulat itu menjadi perut dengan 6 tonjolan otot di perutnya (six packs). Teman itu merupakan bagian dari sekian banyak orang yang punya hobi yang sama. Sampai-sampai mereka sanggup menghabiskan waktu sekian jam sehabis pulang kerja. Tanpa sadar mereka lama kelamaan kehilangan  waktu untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Ini menjadi mode atau tren zaman yang seakan-akan kembali ke zaman renaissance yaitu zaman yang memuja tubuh laki-laki yang berotot atau tubuh yang langsing bagi wanita.  Tentu sikap mereka berbeda dengan sikap atau gaya hidup sebagian orang di era post modern ini. Yaitu sikap yang tidak perduli dengan adanya bahaya dalam perut yang membuncit. Sikap yang mendorong orang untuk tidak lagi mengontrol nafsu makan dan minumnya sehingga kelewatan batas. Semua makanan dan minuman yang memuaskan selera, tanpa melihat apakah makanan dan minuman tersebut dapat mengganggu kesehatannya atau tidak. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan salah satu tokoh pewayangan yaitu Kumbakarna. Yaitu satu tokoh yang hidupnya hanya berfokus pada kenikmatan makan dan minum saja tanpa mau perduli dengan orang lain. Mungkin tujuan hidupnya adalah untuk memuaskan kesenangan fisiknya saja.    

        Berkaca dari kenyataan di atas, tanpa sadar manusia sering masuk ke dalam sistem yang terbalik. Suatu hal yang tidak mutlak dijadikan mutlak. Seperti kondisi negri kita yang semakin parah akibat para pejabat bukannya memikirkan kepentingan rakyat, tetapi malah memikirkan kepentingan diri sendiri maupun golongannya saja. Sehingga menimbulkan banyak kekacauan di hampir setiap aspek kehidupan bernegara ini. Misalnya saja: negara kita yang dari dulu dikenal sebagai negara gemah ripah loh jinawi, malah sekarang sudah mulai di berbagai tempat terjadi kelaparan. Masyarakat Indonesia yang dulunya dikenal sebagai masyarakat ramah, bersifat terbuka, saling menghargai. Tetapi saat ini, betapa seringnya kita mendengar antara kelompok masyarakat yang satu telah saling membantai terhadap kelompok masyarakat lainnya.  Belum lagi tingkah laku aneh dari para pejabat, para wakil rakyat. Mereka sudah tahu kalau negara kita ini semakin lama semakin dibebani oleh hutang luar negri yang semakin menumpuk. Tetapi malah mereka yang paling sering “membuang” uang rakyat untuk hal yang terkesan dibuat-buat. Seperti pembangunan gedung wakil rakyat yang baru dengan 36 tingkat  yang akan menghabiskan dana Rp.1.3 triliun.

     Dari ribuan tahun yang lalu, untuk urusan perut, Alkitab sudah menceritakan tentang hal tersebut. Paulus dalam kitab 1 Korintus 6:13 mengatakan bahwa makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan. Dalam ayat ini Paulus mau menjelaskan makanan dan perut bagi dirinya merupakan hal duniawi karena pada akhirnya akan dibinasakan Tuhan.  Dan  bukan makanan atau perut yang menentukan seseorang itu berkenan pada Allah. Tuhan Yesus menjelaskan dalam Markus 7:19 kalau hal yang menajiskan manusia bukanlah sesuatu yang berupa makanan. Karena sesudah di proses dalam perut, ampas makanan itu akhirnya dibuang dalam jamban. Jadi, baik Tuhan Yesus dan Paulus menegaskan tidak ada jenis makanan yang dapat membawa manusia itu menjadi berdosa kepada Allah (masalah haram dan halal). Seseorang tidak dapat dikatakan lebih suci, lebih baik, lebih rohani jika ia berpantang makanan tertentu dibandingkan orang lain yang tidak punya pantangan makanan. Hanya saja, berpantang makanan itu lebih kepada kegunaan bagi kesehatan seseorang saja. Misalnya, seseorang yang sudah kena penyakit asam urat tentu harus berpantang makan kacang-kacangan.

      Alkitab juga menceritakan bagaimana masalah perut tetap menjadi perhatian Allah bagi manusia. Dari sejak dunia diciptakan, terlihat dalam Kejadian 2:16 Tuhan menciptakan segala jenis pohon yang berbuah agar dapat menjadi sumber makanan bagi Adam. Walau demikian, Allah pun memberikan larangan bagi Adam untuk memakan buah dari phon pengetahuan yang ada di taman Eden itu. Campur tangan Tuhan terus ditunjukkan terhadap kebutuhan perut umat-Nya. Ketika suatu saat kelaparan melanda seluruh dunia, Tuhan mengutus Yusuf anak Yakub untuk menjadi pendahulu di negri Mesir sebagai orang kedua Firaun supaya dapat memelihara cikal bakal bangsa Israel supaya tidak mengalami kepunahan (Kejadian 45:7). Lalu ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, Allah menganugerahkan kepada mereka makanan yang turun dari langit yang disebut manna. Lewat kejadian tersebut, Allah menunjukkan bahwa diri-Nya memperhatikan umat-Nya agar tidak kelaparan. Allah perduli terhadap kebutuhan perut umat-Nya.

         Namun, sering kali kepedulian Allah terhadap kebutuhan perut umat-Nya disalahgunakan oleh manusia tersebut. Seperti yang tercatat dalam Roma 16:18 akan muncul orang-orang yang hidupnya hanya untuk melayani perut. Justru apa yang mereka lakukan dengan segala perkataan mereka terhadap orang lain semata-mata bertujuan untuk memberi keuntungan pribadi bagi mereka. Sehingga tidak salah jika Paulus mengatakan orang-orang seperti sudah memutlakkan yang tidak mutlak karena mereka sudah menjadikan perut mereka sebagai Tuhan (Filipi 3:19 :“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”). Terbayangkan jika Allah Zebaoth digantikan kedudukannya dengan perut, betapa kacaunya hidup manusia seperti itu. Penyembahan mereka tujukan hanya kepada diri mereka sendiri. Pemuasan nafsu dan mencari kenikmatan adalah tujuan utama dari hidup mereka. Sehingga kerakusan, keserakahan semuanya menjadi keseharian dalam kehidupan orang-orang itu. Termasuk di dalamnya sikap makan dan minum yang tidak lagi memperhatikan kesehatan. Mereka makan dan minum seakan tidak ada lagi hari esok untuk dapat menikmati makan dan minum yang ada. Prinsipnya adalah : “Yang penting nikmat dan menikmati hidup.” Orang-orang seperti itu telah menggantikan sesuatu yang tidak penting menjadi yang utama.

      Inilah yang disebut Paulus (Filipi 3:19) sebagai keaiban bagi orang-orang yang mempunyai prilaku seperti di atas. Mereka tanpa sadar telah menjadikan keaiban sebagai sesuatu yang mulia bagi hidup mereka. Mereka bangga melakukan hal itu dan mengganggap perlakuan tersebut sudah hal yang berkenan pada Tuhan. Sehingga perlakuan tersebut semakin menunjukkan bahwa pikiran mereka semata-mata hanya pada perkara duniawi. Dan hal ini banyak terjadi pada masa sekarang ini. Bahkan terjadi dalam konteks kumpulan orang-orang percaya. Misalnya : dalam gereja ada orang-orang tertentu kelihatan begitu bergairah ketika ia mendapat kedudukan di organisasi gereja, entah itu sebagai pengerja, atau pengurus. Lalu akhirnya terlihatlah belang orang-orang seperti itu. Ada yang mau menjadi pengerja gereja untuk mendapatkan nama di antara orang-orang sekitarnya. Mau menunjukkan bahwa dirinya diperkenan Tuhan dan mau digolongkan seperti orang saleh. Tetapi ternyata di dalam setiap kebaktian, dirinya sering kedapatan tidur. Dan apabila ditegor, maka orang itu akan balik menyerang dengan mengatakan bahwa dalam gereja tidak boleh ada tegoran karena tegoran itu bertentangan dengan kasih dan kasih yang harus diutamakan dalam gereja.  

     Sebab itu, tindakan orang-orang seperti itu hanya ingin mereduksi sosok Allah yang transenden sekaligus imanan menjadi Allah yang imanensaja. Lalu disaring dengan keinginan serta dibentuk lewat pemikiran sendiri. Alhasil, terciptalah ilah buatan sendiri yaitu ego mereka yang dipatok berdasarkan kepuasan sendiri. Ia menciptakan allah berdasarkan pengetahuan dan perasaan pancaindera saja. Hal itu tentu sama saja dengan membuat sebuah patung berhala untuk disembah. Mereka menyebut diri orang Kristen, tetapi mereka menyangkal pengajaran Kristen yang sebenarnya.Semuanya menjadi terbalik-balik. Karena itu, sepantasnya kesudahan mereka adalah kebinasaan (apōleia). Kata ini terkadang dipakai untuk suatu daerah, kota atau negara yang telah hancur lebur oleh kekuatan pasukan musuh. Dan dalam Alkitab, kata ini sering diartikan sebagai kebinasaan kekal.

      Terkait dengan hal di atas, saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang setiap kali bertemu sangat senang membicarakan orang lain. Tidak perduli apakah orang itu temannya, atau satu lingkungan tempat tinggal dengannya, atau bahkan hamba Tuhan yang melayani di gereja tempat mereka beribadah. Ada saja memang hal yang mereka bicarakan, tapi inti dari minat pembicaraan di antara mereka adalah ingin mencari-cari kesalahan orang lain. Pada satu kesempatan bersama dengan orang-orang seperti itu, saya mengajukan satu pertanyaan kepada mereka. “Berapa jam lamanya saudara-saudara dapat membicarakan orang lain? Dan coba bandingkan, berapa jam lamanya saudara-saudara dapat bertahan untuk membicarakan firman Tuhan?” Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya orang-orang tersebut apakah sudah bertobat atau belum. Tapi, saat itu saya benar-benar seperti berada di tengah-tengah kumpulan para pencemooh. Inilah contoh orang-orang yang pikirannya dipenuhi dengan hal-hal duniawi sehingga mereka suka hidup dengan bercampur perkara dosa.  

Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi bila orang-orang yang bertuhankan perut dan mengutamakan perut menjadi orang-orang yang mengurus negara ini. Atau juga mengurus gereja dan komunitas Kristen. Inilah sebabnya, banyak perkara yang muncul di negara kita yang bersumber dari para pejabat, wakil rakyat itu sendiri. Mereka mengenyangkan perut sendiri tapi membiarkan perut masyarakat yang seharusnya mereka layani, mereka wakili menjadi kelaparan. Dan kita juga mengetahui bagaimana kondisi terancam rusak ataupun bubar akibat ulah orang-orang tipe seperti di atas. Kita menyadari ada satu gereja yang cukup besar di Indonesia yang mengalami pepercahan selama beberapa waktu akibat perilaku kelompok dalam gereja itu yang bertingkah laku seenak perutnya.
Puji Tuhan, beberapa tahun yang lalu, antara kedua kelompok yang bertikai sudah terjadi rekonsiliasi. Namun, luka-luka batin yang terjadi antar pribadi masih perlu mendapat perawatan secara mental maupun secara rohani. 

Jika manusia selalu menuruti keinginannya sendiri tanpa melakukan penyaringan dan pemikiran yang berlandaskan takut akan Tuhan, maka terjadilah manusia-manusia yang memuja dan melayani perutnya. Mereka lupa kalau perut itu untuk makanan, sementara itu manusia adalah untuk Tuhan karena kita adalah milik Tuhan. Artinya, Tuhan akan memberikan berkat kepada setiap umat-Nya yang bekerja dengan wajar. Sementara itu, umat-Nya harus tetap melakukan segala firman Tuhan dalam hidupnya. Jangan sampai umat-Nya menjadi takut untuk tidak mendapatkan rezeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan kebutuhan dasar (mengenyangkan perut). Ketakutan tersebut menimbulkan suatu tindakan perjuangan yang lama kelamaan membuat orang itu melupakan Tuhan, tetapi malah menuhankan perutnya. Maka dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Sorga dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia maupun dalam komunitas Kristen terkadang membuat kita tercengang. Betapa jahatnya perilaku orang-orang yang sudah menuhankan perut dan hidup hanya untuk melayani perutnya. Terkadang penulis terpikir, pantas saja ada hukuman yang Tuhan berikan kepada umat Israel yang telah berlaku serong dengan mengempiskan paha dan menggembungkan perutnya (Bilangan 5:21-22. Catatan : mungkin gembung seperti orang busung lapar). Atau seperti Yunus harus mendekam dalam perut ikan selama 3 hari agar ia menyadari bahwa hidupnya sedang melaksanakan tugas Tuhan. Dan Yunus pun belajar kalau hidupnya itu dibawah pengaturan Allah.

Untuk itu menjadi hal yang penting bagi kita ingat, bahwa Tuhan itu selalu memperhatikan kebutuhan dasar dari setiap umat-Nya. Ia mengatakan hal itu dengan tegas supaya kita sebagai orang percaya tidak perlu khawatir terhadap apa yang hendak kita makan dan minum, serta apa yang akan kita pakai (Matius 6:25). Semua kebutuhan itu pasti Tuhan penuhi. Karena kebutuhan puncak kita saja yaitu keselamatan untuk masuk ke dalam sorga, Ia penuhi. Dan pemenuhan itu melalui satu pengorbanan dari Anak-Nya sendiri. Suatu pengorbanan yang tidak main-main. Pengorbanan yang merupakan tuntutan dari kasih dan keadilan Tuhan pada kita manusia yang berdosa ini. Kondisi itu menegaskan tulisan dalam Roma 8:32 yang berkata bagaimana mungkin Allah tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada umat-Nya, sedangkan Anak-Nya saja sudah diserahkan untuk menyelamatkan kita?  Dengan demikian, untuk urusan perut pun, mulai sekarang kita harus benar-benar bergantung pada Tuhan. Kitapun harus mengucap syukur untuk semua pemberian Tuhan pada diri kita. Kita bekerja dengan fokus yaitu untuk memuliakan nama Tuhan. Sehingga tujuan bekerja tidak bergeser kepada pemuasan hawa nafsu, penumpukan terhadap kekayaan dan akhirnya menuhankan perut. Dari berkat yang kita terima dari Tuhan lewat pekerjaan kita, sekarang dapat kita berikan sebagian kepada orang yang memerlukan, orang yang kelaparan, orang yang miskin. Kehidupan kita menjadi kehidupan yang berpusat pada keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak lagi berprilaku seenak perut kita. Sehingga hidup kita menjadi hidup yang berarti dan penuh harapan, bukan seperti Yudas karena putus harapan mati dengan perut terbelah. Soli Deo Gloria