Minggu, 22 Mei 2011

Hikmat Allah dan Hikmat Manusia (1 Korintus 1:18-25)


Dalam perikop ayat Alkitab yang kita baca ini, terlihat Paulus seperti orang yang sedang marah. Ia memakai kalimat keras dan pedas. Dia mengatakan "kebodohan pemberitaan Injil." Mengapa? Kalimat ini menggambarkan bagaimana sebenarnya banyak sekali orang yang berpikiran seperti yang disebutkan Paulus seperti itu.Yaitu menganggap berita Injil sebagai suatu kebodohan. Apalagi mengenai Yesus Kristus yang mati di kayu salib. Kalau kita melihat di berbagai situs dari orang-orang tertentu, komentar mereka tentang penyaliban Yesus adalah suatu hal yang menggelikan. Suatu hal yang mengada-ada, suatu pembohongan dan lain sebagainya. Alasannya adalah :"Mana mungkin Tuhan Allah bisa disalibkan selayaknya manusia berdosa?" Allah tidak mungkin bisa melakukan hal-hal kenajisan seperti itu....

      Memang secara logis, bagaimana mungkin seorang yang sudah mendekati kematian di kayu salib dapat menjadi orang yang menyelamatkan orang lain. Makanya ada suara-suara dari bawah kayu salib ketika Yesus disalib yang mengatakan : "Kalau memang Dia Raja Israel, suruhlah Dia turun agar kami dapat percaya." (Maitus 27:42). Apalagi salib pada saat kerajaan Romawi merupakan hukuman paling keji yang ditujukan pada para penjahat kelas kakap seperti penghianat negara, seorang pembunuh, dll.Orang terhukum, tak berdaya, dan akan mati, mungkinkah dapat menyelamatkan orang lain? Ini adalah inti pemikiran manusia.
     Hal inilah yang menjadi bukti bahwa logika manusia atau hikmat manusia menjadi sangat berbanding terbalik dengan hikmat Allah. Manusia tidak akan mungkin dapat mengikuti, menalar dan menebak hikmat Allah. Seperti yang saya kutip dari pernyatan Stephen Hawking seorang ilmuwan yang diakuioleh dunia yaitu : "Pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati." Ia menambahkan bahwa teorinya mengenai alam semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan semakin kuat. "Alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya." Seperti inilah hikmat manusia ketika mencoba menelaah semua ciptaan Allah yang dapat terlihat oleh manusia. Kemampuan manusia tetap ada batasnya untuk menelaah semua perbuatan Tuhan. Ibarat satu tetes air dibanding dengan lautan yang begitu luas.

     Allah telah berencana membuat tindak penyelamatan yang luar biasa dan tidak masuk akal manusia. Ia dari semula sudah merencanakan penyelamatan lewat pengorbanan Anak-Nya. Pengorbanan yang seharusnya dilakuikan oleh manusia, tetapi karena tidak ada satupun manusia yang mampu melakukannya. Karena syaratnya tidak akan diterima oleh Allah, yaitu korbannya harus suci, dan kudus. Sementara semua manusia sudah jatuh dalam dosa.Allah berdasarkan kasih, keadilan dan hikmat-Nya mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Manusia menggantikan manusia yang sudah tidak punya kemampuan, harapan, dan yang selalu bertentangan dengan Allah.

     Untuk inilah , kita harus belajar berdasarkan hikmat Allah. Artinya kita harus hidup sesuai dengan tuntunan hikmat Allah. Hikmat Allah yang sebagian sudah tertulis dalam Alkitab, itulah yang menjadi pedoman nyata bagi kita untuk berjalan sesuai pimpinan-Nya. Kita harus hidupi firman tersebut agar kita diberikan pengertian. Seperti yang dikatakan St.Agustinus : percaya dulu baru mengerti."  Jangan dibalik, mengerti dulu baru percaya. Seperti yang terjadi pada Thomas. Dia harus menyentuh bekas luka pada tubuh Yesus agar ia dipuaskan. Maka Tuhan Yesus berkata :"Berbahagialah orang yang percaya tanpa melihat." (Yohanes20:29).  Jadi, hanya melalui pengandalan hikmat Allah, kita menjadi selamat. Hendaklah kita meminta hikmat Allah agar hidup kita berkenan pada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar